Jumat, 03 April 2015

Negative campaign dan black campaign

Negative campaign dan black campaign bukan monopoli Indonesia. Juga bukan monopoli negara berkembang. Pemilu di Amerika Serikat, negeri yang disebut sebagai kampiun demokrasi di dunia, juga diwarnai dua jenis kampanye semacam itu.

Negative campaign adalah jenis kampanye yang mengeksploitasi sisi-sisi kelemahan dan sisi-sisi kelam seorang kandidat. Bisa menyangkut dirinya, bisa pula menyangkut keluarga dan pendukungnya. Bisa menyerempet visi, bisa pula menyenggol pendapat dan perilakunya. Sedangkan black campaign adalah serangan dengan mengungkap sesuatu yang tak faktual, cenderung kepada fitnah atau tuduhan yang sulit dibuktikan.

Barack H Obama adalah kandidat presiden AS yang paling banyak mendapat serangan kampanye negatif dan kampanye hitam. Nama Husein pada nama tengah Obama dieksploitasi. Husein adalah nama ayahnya. Nama Husein ini diidentikkan dengan nama seorang Muslim. Ayah Obama memang dari keluarga Muslim di negeri asalnya di Afrika. Di negeri yang mayoritas beragama Kristen, tentu saja merupakan suatu anomali jika seorang Muslim bisa menjadi presiden. Walau suku, agama, ras, dan asal-usul bukan merupakan kesesatan dalam demokrasi namun dalam praktik hal itu bukan sesuatu yang mudah. Karena itu agama Obama menjadi isu politik di negeri tersebut. Kewarganegaraan Obama juga sempat menjadi isu. Ini terutama karena ia pernah tinggal di Indonesia dan berayah tiri orang Indonesia. Yang paling lucu adalah mempersoalkan pendidikan Obama yang pernah sekolah di SD Negeri di Menteng, Jakarta Pusat. Indonesia sebagai negeri yang pernah didera terorisme akut menjadi bahan eksploitasi masa sekolah Obama.

Parade pergelaran pilpres 2014 sudah berada di titik ujung. Ada banyak cerita menarik dan penting yang dapat ditimba dari salah-satu bagian ritual demokrasi ini. Salah-satu sisi paling menarik dalam Pilpres 2014 ini adalah dijadikannya media sosial sebagai garda depan proses kampanye. Praktis sepanjang  masa kampanye pilpres, media sosial penuh sesak dengan adu argumentasi dan perdebatan antar masing-masing kubu kandidat capres. Kondisi ini merupakan hal yang pertama kali terjadi dalam tradisi politik di Indonesia.Jumlah dua kandidat yang hanya dua pasang menjadikan perseteruan antar kubu terjadi sangat sengit dan menimbulkan fragmentasi sosial sedemikian rupa.
Terlepas dari perseteruan sengit antar kedua kubu dengan berbagai intrik didalamnya, proses pilpres 2014 juga menghadirkan “indirect battle” antara dua orang warga negara Amerika Serikat yang secara intensif terlibat dan mempengaruhi opini publik dalam kampanye pilpres. Kedua orang itu adalah Allan Nairn dan Rob Allyn. Dua orang ini mempunyai profesi sekaligus peran yang berbeda dalam meramaikan pesta demokrasi lima tahunan ini. Allan Nairn adalah seorang jurnalis-investigatif yang bekerja khusus untuk meliput dan menginvestigasi beragam kebijakan luar negeri AS yang anti-demokrasi. Sebaliknya, Rob Allyn adalah seorang film maker yang sekaligus mempunyai profesi sebagai kosultan politik.
Allan Nairn
Di Indonesia, nama Allan Nairn lebih dahulu kondang daripada Rob Allyn. Nairn pertama kali mengemuka ke publik adalah ketika dia bersama Amy Goodman melaporkan insiden pembantaian berdarah sebanyak 270 orang Timor dengan menggunakan senapan M16 di sebuah makam di Santa Cruz, Dili Timor-Timur. Sontak, laporan jurnalistik Allan Nairn dan Amy Goodman berjudul Massacre : The Story of East Timor itu membuka mata dunia bahwa di Timor-Timur telah terjadi pembunuhan keji yang didalangi oleh Negara.  Dampak dari pemberitaan Allan Nairn ini sangat besar yang bahkan direspon berbagai demonstrasi di beberapa belahan dunia untuk menuntut pengusutan kasus 12 November 1991 itu.
Merespon apa yang terjadi di Timor Timur itu, Presiden AS, Bill Clinton menunjukkan keprihatinannya. Clinton bertutur :
“I’m very concerned about what’s happened in East Timor. We have ignored it so far in ways that I think are unconscionable.”
(Saya sangat prihatin tentang apa yang terjadi di Timor Timur. Kami telah mengabaikannya begitu jauh dengan cara yang saya pikir tidak bermartabat.”
Praktis, laporan dari Allan Nairn ini menjadikan posisi Indonesia mendapat perhatian serius dalam hal pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Dan, mendorong beberapa intelektual masyarakat sipil (termasuk Noam Chomsky)  untuk bergerak, mendirikan sebuah lembaga bernama the East Timor and Indonesia Action Network (ETAN), yang concern mengangkat berbagai isu tentang pelanggaran HAM di Timor Timur dan Indonesia.  Sejak itulah, Allan Nairn menjadi salah-satu jurnalis asing yang menjadi musuh rejim Soeharto.
Belakangan, nama Allan Nairn kembali mengemuka dan mengguncang publik ketika melalui blog pribadinya, allannairn.org, dia memposting wawancara off the record antara dirinya dengan Prabowo Subijanto, salah-satu kandidat presiden yang sedang berkompetisi merebut kursi RI-1. Dalam wawancara off the record yang pertama kali ia unggah pada tanggal 22 Juni 2014 itu, Allan Nairn menulis beberapa statemen Prabowo tentang pembunuhan oleh tentara, demokrasi, dan otoritarianisme. Secara jelas, dalam wawancara itu, Prabowo member dukungan atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan militer asalkan dilaksanakan di tempat-tempat yang terpencil. Prabowo juga member penegasan bahwa demokrasi tidak cocok diterapkan di Indonesia, yang kemudian muncul istilah “benign authoritarian”, yang menurut Prabowo dianggap cocok bagi Indonesia. Dalam postingan pertama itu juga terungkap ketidak-sukaan Prabowo terhadap Gus Dur yang buta, yang – menurut Prabowo – memalukan dan tidak pantas jadi presiden.
Tentu saja, postingan Allan Nairn di blog pribadinya itu mengundang beragam perdebatan dan sekaligus sinisme. Kubu Prabowo sangat gusar dengan postingan tersebut. Tetapi, Allan Nairn mempunyai alasan sendiri. Nairn merasa risau atas kemungkinan terpilihnya seorang pembunuh menjadi presiden.  Allan Nairn bertutur dalam sebuah wawancara :
“Jokowi dikellingi oleh para jenderal pembunuh (Hendropriyono dan Wiranto – pen), tetapi Prabowo adalah pembunuh itu sendiri”.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa Allan Nairn mempunyai tanggung-jawab moral untuk menghentikan kemungkinan kembalinya rejim otoritarinisme yang anti penegakan HAM di Indonesia.  Meski demikian, sinisme terhadap Allan Nairn masih sangat kuat, terutama berkaitan dengan pertanyaan mengapa dia baru mengungkap hal ini sekarang ? tidak dulu-dulu, saat Prabowo maju menjadi wakil presiden mendampingi Megawati pada pilpres 2009. Mengenai hal ini, Allan Nairn menjawab (Tempo/7/7/2014) :
“waktu itu Prabowo hanya calon wakil presiden. Akhirnya toh mereka kalah. Waktu itu saya yakin mereka tidak akan menang”.
Artinya, potensi Prabowo Subijanto memenangi pilpres 2014 sangat terbuka dan itulah yang merisaukan Allan Nairn.
Rob Allyn
Orang Amerika Serikat kedua yang secara intensif juga terlibat dalam “keributan” kampanye pilpres adalah Rob Allyn. Jauh sebelum pilpres, nama Rob Allyn sebenarnya telah terlebih dahulu mengemuka di Indonesia melalui karya trilogi film Merah-Putih.
 Rob Allyn adalah seorang sineas yang memiliki rumah produksi Margate House. Film trilogy Merah Putih merupakan proyek kolaborasi antara rumah produksi milik Rob Allyn dengan Media Desa Indonesia milik Hashim Djoyohadikusumo, adi kandung Prabowo Djoyohadikusumo.  Trilogi Merah Putih merupakan film yang sangat ambisius sekaligus sangat mahal. Rp. 60 Milliar dihabiskan untuk memproduksi dan promosi film itu. Tetapi, angka yang fantastis itu terbayar lunas. Kualitas film Merah Putih sangat baik dan mendapat respon positif dari penonton, meskipun tidak mendapat untung besar pada sesi pemutaran di bioskop.
Lantas, apa hubungannya seorang sineas dengan pilpres 2014 ? Di samping sebagai seorang sineas, Rob Allyn juga seorang yang bekerja menawarkan jasa sebagai konsultan politik. Rob Allyn mempunyai perusahaan konsultan politik bernama Allyn & Company Inc, yang bergerak di bidang public relation, periklanan, public affairs, dan media politik.
Melalui perusahaan konsultan politik Allyn & Company Inc itulah, Rob Allyn berkontribusi besar menjadi pemoles citra sekaligus strategi pemenangan pasangan Prabowo-Hatta. Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya Suhardi (Tempo, 5/7/2014) membenarkan bahwa Rob Allyn sebagai salah satu konsultan politik Prabowo-Hatta.
Terdapat sebuah ciri khas dari Allyn & Company Inc dalam usahanya memenangkan klien yang memakai jasanya, yakni melalui negative campaign  dan black campaign yang massif. Melalui cara ini, Rob Allyn pernah berhasil  menaikkan seorang Vicente Fox untuk menduduki posisi sebagai Presiden Mexico pada tahun 2001 dan juga membantu George W Bush untuk menjadi presiden AS pada tahun 2000.
Saat membantu memenangkan George W Bush menjadi presiden, Allyn menyebar berita buruk terhadap rival Bush, yakni McCain. Salah-satu bentuk kampanye hitam adalah menyebarkan isu bahwa Mc Cain menjalin hubungan dengan perempuan negro dan sekaligus mempunyai anak kulit hitam dari hasil hubungan itu. Untuk menguatkan, berita ini sekaligus disertai dengan foto keluarga McCain bersama anak kulit hitam yang diisyaratkan sebagai anak di luar nikah. Praktis, berita ini menggerus sedemikian rupa suara McCain dan menjadi salah-satu factor kekalahannya dalam perebutan kursi presiden AS. Padahal, kenyataannya, anak kulit hitam itu adalah anak adopsi keluarga McCain, tak berhubungan sama sekali dengan hasil hubungan di luar nikah.
Taktik  yang sama juga dilakukan oleh Rob Allyn saat menjadi konsultan Vicente Fox dalam pilpres di Mexico., yakni dengan menyebar negative campaign dan black campaign. Dan, taktik itu juga dilakukan oleh Rob Allyn di Indonesia dalam upayanya untuk memenangkan Prabowo-Hatta. Berbagai bentuk negative campaign dan balck campaign yang menjurus pada smear campaign sangat massif diarahkan pada Jokowi. Mulai dari Jokowi adalah seorang keturunan Cina, anti-Islam,  tidak bisa sholat, tidak bisa wudhu, sampai menyebar berita bahwa Jokowi adalah komunis. 
Dibantu dengan portal-portal media online yang berafiliasi dengan kubu Prabowo-Hatta, kampanye ala Rob Allyn ini menyebar begitu luas di masyarakat. Targetnya jelas, yakni untuk melakukan pembunuhan karakter terhadap Jokowi. Dalam kadar tertentu, kampanye model ini memang cukup signifikan pengaruhnya, Prabowo-Hatta sanggup mengejar ketertinggalannya dari Jokowi-JK dalam hal elektabilitas.  Namun, dalam kadar yang lain, kampaye seperti ini sangat tidak produktif dalam membangun keberadaban demokrasi.
Epilog   
Ada dua orang Amerika Serikat yang terlibat cukup serius dalam perhelatan akbar pilpres 2014 kali ini, yakni Allan Nairn dan Rob Allyn. Namun, kedua orang AS ini mempunyai perspektif yang berbeda dalam melibatkan diri. Nairn terpanggil atas kesadaran intelektual untuk menghentikan kemungkinan berkuasanya rejim otoriter  Sebaliknya, Rob Allyn bekerja atas dasar panggilan material. Allyn bekerja karena dia dibayar untuk memenangkan Prabowo-Hatta. Allan Nairn bekerja sebagai seorang jurnalistik professional, sebaliknya Rob Allyn bekerja sebagai seorang konsultan politik professional. Tak ada yang salah dari kedua pilihan itu.

Lepas dari itu, pilpres 2014 merupakan pemilu yang paling menguras tenaga, pikiran, dan emosi banyak orang. Dan, dalam pemilu kali ini dua orang Amerika pun berada dalam kubu yang saling berhadap-hadapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar